Rabu, 13 Mei 2015

MAKALAH SEJARAH ILMU PENGETAHUAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan pada dasarnya mengikuti perkembangan pemikiran dari para filsuf di mana induk dari pengetahuannya pun berasal dari filsafat. Puncak pemahaman tentang kejadian-kejadian di muka bumi, yang merupakan suatu cikal bakal dari ilmu pengetahuan, terjadi pada masa Yunani kuno. Kebudayaan Yunani pada masa itu dengan mitologi tentang dewa-dewa yang dimilikinya, memunculkan sifat ingin tahu dan rasa penasaran untuk mengetahui rahasia alam. Diawali dengan usaha-usaha untuk mengenali gejala-gejala alam yang terjadi dimuka bumi, maka fisuf-filsuf Yunani kuno mengembangkan filsafat alam, suatu kajian pemikiran mengenai sebab-sebab hadirnya atau asal usul alam semesta. Kemudian pada zaman pertengahan (Middle Age) ditandai dengan tampilnya para theology di lapangan ilmu pengetahuan.
B.   Rumusan Masalah
1.     Bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan pada masa pra yunani kuno?
2.     Bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan pada masa yunani kuno?
3.     Bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan pada abad pertengahan?

C.   Tujuan masalah
Mengetahui sejarah ilmu pengetahuan pra yunanai kuno, yunani kuno dan abad pertengahan.



BAB II
PEMBAHASAN
A.Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Zaman Pra-Yunani Kuno (Abad XV-VII SM)
Zaman Pra Yunani Kuno dimulai sebelum abad ke lima belas sebelum masehi kuno, yaitu ketika manusia belum pernah mengenal peralatan seperti yang dipakai sekarang. Ketika itu manusia masih menggunkan peralatan yang terbuat dari batu. Zaman batu berkisar antara empat juta tahun sampai 20.000 tahun SM. Sisa perabadan manusia yang ditemukan pada masa ini diantaranya sebagai berikut:
1.     Alat-alat dari batu
2.     Tulang belulang hewan
3.     Sisa-sisa beberapa tanaman
4.     Gambar-gambar di gua
5.     Tempat-tempat penguburan
6.     Tulang belulang manusia purba.
Pada zaman ini, manusia menggunakan batu sebagai peralatan karena ditemukan alat-alat yang bentuknya mirip satu sama lain (misalnya kapak sebagai alat pemotong dan pembelah, tulang menyerupai jarum untuk menjahit). Hal ini menandakan bahwa manusia sebagai makhluk berbudaya mampu berkreasi. Benda-benda yang digunakan manusia mengalami perbaikan dan perkembangan karena manusia melakukan dan mengalami proses trial and error. Proses ini cukup memakan waktu yang lama dan dengan melalui proses ini manusia melakukan seleksi pada alat-alat yang digunakan sehingga manusia menemukan alat yang dianggap lebih baik atau lebih kuat untuk digunakan membuat peralatan tertentu yang nantinya akan membantu mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Antara abad 15 SM sampai abad 6 SM manusia sudah menemukan besi, tembaga, perak untuk peralatan. Peralatan besi pertama kali digunakan di Irak, bukan di Eropa atau Tiongkok pada abad 15 SM.
Pada masa ini kemampuan berhitung ditempuh dengan cara one to one correspondency atau mapping process.  Contoh cara menghitung hewan yang akan masuk dan keluar kandang dengan kerikil. Jadi serupa halnya anak-anak yang belajar berhitung dengan menggunakan jari-jari tangan dan kakinya. Pada masa ini manusia sudah memperhatikan keadaan alam semesta sebagai suatu proses alam. Lama kelamaan manusia mulai memperhatikan dan menemukan hal-hal sebagai berikut.
1.     Gugusan bintang di langit sebagai suatu kesatuan. Kemudian gugusan ini diberikan nama dan sekarang merupakan nama-nama zodiak.
2.     Kedudukan matahari dan bulan pada waktu terbit dan tenggelam, bergerak dalam rangka zodiak tersebut
3.     Setelah itu dikenal pula bintang yang bergerak di antara gugusan yang sudah dikenal tadi. Sehingga ditemukan planet-planet.
4.     Dapat menghitung waktu bulan kembali pada bentuknya yang sama antara 28-29 hari.
5.     Waktu timbul dan tenggelamnya matahari di cakrawala yang berpindah-pindah dan memerlukan 365 hari sebelum kembali ke kedudukan semula.
6.     Saat matahari diketahui timbul tenggelam sebanyak 365 kali, bulan juga mengalami perubahan sebanyak 12 kali. Berdasarkan hal itu di temukan perhitungan kalender.
7.     Ditemukan beberapa gejala alam, seperti gerhana yang pada masa itu masih dihubungkan dengan mitologi-mitologi tertentu sehingga menakutkan orang banyak.
B. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Zaman Yunani Kuno (Abad VII-II SM)
Zaman yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudang ilmu dan filsafat karena bangsa yunani pada masa ini tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima begitu saja) melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude  ( sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap tersebut merupakan cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern.
Filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah perabadan manusia karena pada waktu ini pola pikir masyarakat masih mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi. Gempa bumi tidak dianggap fenomena alam biasa, tetapi dewa bumi yang sedang mengoyangkan kepalanya. Tetapi ketika filsafat di diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas. Perubahan pola pikir tersebut terlihat sederhana tetapi implikasinya tidak sederhana karena selama ini alam ditakuti dan dijauhi kemudian didekati bahkan dieksploitasi. Manusia yang dulunya pasif dalam menghadapi fenomena alam menjadi lebih proaktif dan kreatif, sehingga alam dijadikan objek penelitian dan pengkajian. Periode perkembangan filsafat yunani merupakan entri poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia.
Bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal sepanjang masa. Beberapa tokoh yang yang terkenal pada masa ini antara lain Thales, Phytagoras, Sokrates, Leucippus, Plato dan Aristoteles.

1.   Thales (624-548 SM)
     Thales adalah filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam. Thales digelari Bapak Filsafat karena dia adalah orang yang mula-mula berfilsafat dan mempertanyakan “ apa sebenarnya asal usul alam semesta itu?”. Pertanyaan ini dijawab oleh Thales dengan pendekatan rasional bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan. Menurut Thales asal alam semesta itu adalah air, karena tidak ada kehidupan tanpa air. Air merupakan unsur penting bagi setiap makhluk hidup, air dapat berubah menjadi benda gas, seperti uap dan benda padat  seperti es, dan bumi ini juga berada diatas air.
2.   Socrates (470-399 SM)
Socrates berpendapat bahwa ajaran dan kehidupan adalah satu dan tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dasar dari segala penelitian dan pembahasan adalah pengujian diri sendiri. Bagi Socrates, pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan diri sendiri. Socrates tidak pernah meninggalkan tulisan, tetapi pemikirannya dikenal melalui dialog-dialog yang ditulis oleh muridnya Plato. Metode Socrates dikenal sebagai Maieutike Tekhne (ilmu kebidanan), yaitu suatu metode dialektika yang melahirkan kebenaran.
Socrates selalu mendatangi orang yang dia pandang memiliki otoritas keilmuan dengan bidangnya untuk berdiskusi tentang pengertian-pengertian tertentu. Socrates lebih mementingkan metode dialektika itu sendiri daripada hasil yang diperoleh. Jadi meskipun Socrates tidak meninggalkan teori-teori ilmu tertentu, tetapi ia meninggalkan sikap kritis melalui metode dialektika yang akan berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan modern.
3.   Aristoteles (384-322 SM)
Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles. Aristoteles adalah murid Plato, seorang filosof yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persolan besar filsafat yang dipersatukan dalam satu sistem yaitu logika, matematika, fisika, dan metafisika. Ia meneruskan sekaligus menolak pandangan Plato. Ajaran Aristoteles paling tidak dapat diklasifikasi ke dalam tiga bidang, yaitu metafisika, logika, dan biologi.
a.     Metafisika
Pandangan Aristoteles tentang metafisika berbeda dengan pandangan Plato. Ia menolak pandangan Plato tentang ide-ide. Aristoteles lebih mendasarkan filsafatnya pada realitas itu sendiri. Kenyataan bagi Aristoteles adalah hal konkret. Ide umum, seperti manusia, pohon, dan lain-lain, seperti yang dikatakan Plato, tidak terdapat dalam kenyataan konkret (Bertens, 1989: 14). Aristoteles mengatakan bahwa hal terpenting dalam pengetahuan objektif adalah menemukan penjelasan tentang sebab dan asal mula atau prinsip pertama dari segala sesuatu (White, 1987: 31). Aristoteles membahas metafisika, istilah metafisika itu sendiri baru diperkenalkan oleh Andronikus ketika mengelompokan ajaran-ajaran Aristoteles, sebagai filsafat pertama dan menganggapnya sebagai prinsip pertama yang mendasari tugas ilmiah. Aristoteles ingin mengetahui jika semua hal ada dapat dipertimbangkan, maka bukannya dalam berbagai segi kasus atau ilmiah, melainkan ada dalam pengertian umum. Konsep self evidence di dalam filsafat Aristoteles merupakan butir penting dalam pemahaman filsafat dan fungsi metafisik. Apabila pada ajaran Plato pemahaman atas Forms, maka dalam filsafat Aristoteles diarahkan pada kemampuan untuk menyusun batas-batas penelitian dan menyelidiki suatu titik penyelesaian. Self Evidence merupakan penjelasan atas materi tertentu yang tidak dicari pada sesuatu yang lain, tetapi dapat ditemukan hanya di dalam pemikiran itu sendiri. Pembuktian dicari pada sesuatu yang terkandung di dalam hal itu sendiri.

b.     Logika
Aristoteles menyusun buku tentang logika untuk menjelaskan cara menarik kesimpulan secara valid. Logika Aristoteles didasarkan pada susunan pikir. Pada dasarnya silogisme itu terdiri dari tiga pernyataan, yaitu premis mayor sebagai pernyataan pertama yang mengemukakan hal umum yang telah diakui kebenarannya, premis minor sebagai pernyataan kedua yang bersifat khusus dan lebih kecil lingkupnya daripada premis mayor, dan kesimpulan atau konklusi yang ditarik berdasarkan premis tersebut. Dengan demikian silogisme merupakan suatu bentuk jalan pemikiran yang bersifat deduktif yang kebenarannya bersifat pasti.
Dengan menyusun logika, Aristoteles telah memulai usaha yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan, yaitu sebagai sarana berpikir yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum.
c.      Biologi
Aristoteles hanya dikenal sebagai filsuf, tetapi ia juga adalah seorang ilmuan kenamaan pada zamannya. Salah satu bidang ilmu yang banyak mendapat perhatiannya adalah biologi. Dalam embriologi, ia melakukan pengamatan (observasi) perkembangan telur ayam sampai terbentuknya kepala ayam. Ia juga melakukan pemeriksaan anatomi badan hewan, dan lain sebagainya. Aristoteles mementingkan aspek pengamatan sebagai suatu sarana untuk membuktikan kebenaran suatu hal, terutama dalam ilmu-ilmu empirik.
Aristoteles yang pertama kali membagi filsafat pada hal yang teoritis dan praktis. Yang teoritis mencangkup logika, metafisika, dan fisika, sedangkan yang praktis mencangkup etika, ekonomi, dan politik. Pembagian ilmu inilah yang menjadi pedoman juga bagi klasifikasi ilmu dikemudian hari. Aristoteles dianggap sebagai bapak ilmu karena dia mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.
Filsafat Yunani yang rasional itu boleh dikatakan berakhir setelah Aristoteles menuangkan pemikirannya. Akan tetapi sifat rasional itu masih digunakan selama berabad-abad sesudahnya sampai sebelum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam dalam Abad Pertengahan. Namun jelas, setelah periode ketiga filosof besar itu mutu fisafat semakin merosot. Kemunduran filsafat itu sejalan dengan kemunduran politik ketika itu, yaitu sejalan dengan terpecahnya kerajaan Macedonia menjadi pecahan-pecahan kecil setelah wafatnya Alexsander The Great. Tepatnya pada ujung zaman Helenisme, yaitu pada ujung sebelum masehi menjelang Neo Platonisme, filsafat benar-benar mengalami kemunduran.

C.Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Zaman Abad Pertengahan
Zaman pertengahan (Middle Age) ditandai dengan tampilnya para theology di lapangan ilmu pengetahuan. Para ilmuan pada masa ini hampir semua adalah para theology sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Semboyan yang berlaku pada masa ini adalah Ancilla Theologia yang berarti abdi agama. Namun, banyak pula temuan dalam bidang ilmu yang terjadi pada masa ini.
Filsafat abad pertengahan adalah suatu arah pemikiran yang berbeda sekali dengan pemikiran dunia kuno. Filsafat abad pertengahan menggambarkan suatu zaman yang baru di tengah-tengah suatu perkumpulan bangsa yang baru, yaitu bangsa Eropa Barat. Filsafat yang baru ini disebut Skolastik. Abad pertengahan selalu dibahas sebagai zaman yang khas akan pemikiran Eropa yang berkembang pada abad tersebut dan menjadikan suatu kendala yang disesuaikan dengan ajaran agama. Dalam agama Kristen, pada abad pertengahan tentu saja ada kecerdasan logis yang mendukung iman religius. Namun iman tidak sama sekali disamakan dengan mistisisme.
Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini, misalnya pada peradaban dunia Islam, terutama pada zaman Bani Umayyah telah menemukan suatu cara pengamatan astronomi pada abad VII Masehi, 8 abad sebelum Galileo Galilei dan Coppernicus. Sedangkan kebudayaan Islam yang menaklukkan Persia pada abad VIII Masehi telah mendirikan sekolah Kedokteran dan Astronomi di Jundishapur. Pada zaman keemasan kebudayaan Islam dilakukan penerjemahan berbagai karya Yunani. Bahkan Khalifah Al-Makmun telah mendirikan Rumah Kebijaksanaan (House of Wisdom) pada abad IX Masehi.
Al-Khawarizmi menyusun buku Aljabar pada tahu 825 M. Kemudian menjadi buku standar beberapa abad lamanya di Eropa. Ia juga menulis buku tentang perhitungan biasa (Arithmetics) yang menjadi pembuka jalan penggunaan cara desimal di Eropa untuk menggantikan tulisan Romawi.
Omar Khayan (1043-1132 M), seorang penyair, ahli perbintangan dan ahli matematika telah menemukan pemecahan persamaan pangkat tiga. Namun pemecahannya berdasarkan planemetri dan potongan-potongan kerucut. Ia juga menemukan soal matematika yang belum terpecahkan sampai sekarang yaitu bilangan A3 ditambah B3 tidak mungkin sama dengan bilangan C3.
Sekitar tahun 600-700 M obor kemajuan ilmu pengetahuan berada di peradaban dunia Islam. Dalam dunia kedokteran muncul nama-nama terkenal seperti Al-Razi (850-923 M) dan Ibnu Sina. Rhazas mengarang suatu Ensiklopedia Ilmu Kedokteran dengan judul Continens, Ibnu Sina telah menulis buku-buku kedokteran (Al-Qanun) yang menjadi buku standar dalam ilmu kedokteran di Eropa. Abu’l Qasim menulis ensiklopedi kedokteran, yang antara lain menelaah ilmu bedah, serta peralatan yang dipakai pada masa itu. Ibnu Rushd (1126-1198) seorang ahli kedokteran yang menerjemahkan dan mengomentari karya-karya Aristoteles. Al Idris (1100-1166) telah membuat 70 peta dari daerah yang dikenal pada masa itu untuk disampaikan kepada Raja Roger II dari kerajaan Sicilia. Pada zaman itu bangsa Arab juga menjadi pemimpin di bidang ilmu alam. Istilah zenith, nadir dan azimuth membuktikan hal itu. Angka yang masih dipakai sampai sekarang yang berasal dari India, telah dimasukkan ke Eropa oleh bangsa Arab.
Sumbangan sarjana Islam dapat diklasifikasikan dalam tiga bidang yaitu:
1.     Menerjemahkan peninggalan bangsa Yunani dan menyebarluaskannya sedemikian rupa sehingga dapat dikenal dunia Barat seperti sekarang ini.
2.     Memperluas pengamatan dalam lapangan Ilmu Kedokteran, obat-obatan, astronomi, ilmu kimia, ilmu bumi, dan ilmu tumbuh-tumbuhan.
3.     Menegaskan sistem desimal dan dasar-dasar aljabar.
Perhubungan antara Timur dan Barat selama Perang Sabil sangat penting untuk perkembangan kebudayaan Eropa karena pada waktu ekspansi bangsa Arab telah mengambil alih kebudayaan Byzantium, Persia, dan Spanyol sehingga tingkat kebudayaan Islam jauh lebih tinggi daripada kebudayaan Eropa (Brouwer, 1982 :41). Universitas Bagdad, Damsyik, Beirut dan Kairo menyimpan dan meneruskan Filsafat Yunani dari orang Arab. Hal itu disebabkan bangsa Arab telah menterjemahkan karya-karya filsuf termashur, seperti Plato, Hippokrates, dan Aristoteles.
Sekitar abad XIV pada zaman Dinasti Yuan (1260-1368) pengaruh Islam di Cina ditandai oleh seorang peneliti pertama bidang astronomi yang mendirikan observatorium yaitu Jamal Al-Din. Arsitek kenamaan Islam, Ikhtiar Al-Din yang merancang pembangunan istana raja di laut utara Beijing.



BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan materi diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.     Zaman Pra Yunani Kuno dimulai sebelum abad ke lima belas sebelum masehi kuno, yaitu ketika manusia belum pernah mengenal peralatan seperti yang dipakai sekarang. Ketika itu manusia masih menggunkan peralatan yang terbuat dari batu. Zaman batu berkisar antara empat juta tahun sampai 20.000 tahun SM.
2.     Zaman yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudang ilmu dan filsafat karena bangsa yunani pada masa ini tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima begitu saja) melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude  ( sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap tersebut merupakan cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern.
3.     Zaman pertengahan (Middle Age) ditandai dengan tampilnya para theology di lapangan ilmu pengetahuan. Para ilmuan pada masa ini hampir semua adalah para theology sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Semboyan yang berlaku pada masa ini adalah Ancilla Theologia yang berarti abdi agama. Namun, banyak pula temuan dalam bidang ilmu yang terjadi pada masa ini.



DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, A. 2005. Filsafat Ilmu. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Bertens, Kees. 1998, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius.
Siswomihardjo, K. ,dkk. 1997. Filsafat Ilmu sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Klaten : Intan Pariwara.
https://muhlis.files.wordpress.com/2010/03/bab-1-ilmu-filsafat-dan-teologi-1.doc

Jumat, 08 Mei 2015



SEJARAH NGAPAK
Aja kaya kuwe, enyong, maning, kepriwe, kencot, dll adalah sebagian kosakata unik dialek Ngapak. Sebagai orang Banjarnegara, saya penasaran dengan asal-usul bahasa ngapak sebagai bahasa “ibu”. Kalau Anda belum tahu dialek Ngapak, dengarlah cara bicara Parto Patrio atau Cici Tegal. Dialek Ngapak ini mempunyai ciri khas dengan akhiran kata “a” tetap dibaca “a” bukan “o” , Contohnya: Sapa (Ind: Siapa) tetap dibaca Sapa. Selain itu akhiran kata “k” dilafalkan “k’’ yang mantap. Dialek Ngapak ini meliputi wilayah setengah provinsi Jawa Tengah (Cilacap, Tegal, Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kebumen, Banjarnegara, sebagian Wonosobo, Pemalang, sebagian Pekalongan), Cirebon, Indramayu, sebagian daerah Banten (Utara). Karena penasaran, saya mencoba menghimpun semua tulisan yang berkaitan dengan bahasa Ngapak dari berbagai sumber (internet). Semua tulisan ini bukan bermaksud untuk membanggakan diri sebagai orang Jawa atau Ngapak tetapi sebagai sikap menghargai warisan budaya leluhur. Berdasarkan sumber berbagai tulisan di internet, kesimpulan mengenai bahasa Ngapak antara lain:
• Dialek Ngapak ini berhubungan dengan asal-usul orang Banyumas yang berasal dari Kutai yang kemudian mendirikan Kerajaan Galuh Purba. Kerajaan Galuh ini berdiri sebelum kerajaan Mataram Kuna. Menurut sejarah, Kerajaan Galuh adalah wilayah merdeka. Oleh sebab itu, saat itu wilayah Galuh disebut sebagai mancanegara oleh orang-orang Kerajaan Mataram. Kemungkinan karena inilah dialek Ngapak bebas dari pengaruh dialek “Mbandhek” / Jawa Wetanan.
• Dialek Ngapak ini diindikasikan sebagai bahasa Jawa yang masih terdapat unsur Bahasa Sansekerta. “Bhineka Tunggal Ika” merupakan salah satu contoh bahasa Sansekerta dengan akhiran tetap dibaca “a” sebagaimana dialek Ngapak.
• Dialek Ngapak merupakan identitas kebudayaan suatu daerah yang bebas dari budaya feodalisme dan budaya asli yang bebas dari pengaruh rekayasa politik (Kerajaan). Hal ini dapat dilihat dari karakter khas orang Banyumas yang egaliter dan blakasuta (blak-blakan).
Berikut ini adalah detail penjelasan mengenai bahasa Ngapak.
Asal Usul Bahasa Ngapak
Asal usul dialek Ngapak tidak terlepas dari sejarah asal usul orang Banyumas. Setelah ditelusuri lewat Wikipedia, nenek moyang orang Banyumas berasal dari Kutai, Kalimantan Timur pada masa pra-Hindu. Berdasarkan catatan Van Der Muelen, pada abad ke-3 sebelum Masehi pendatang tersebut mendaratdi Cirebon kemudian masuk ke pedalaman. Sebagian menetap di Gunung Cermai dan sebagian lagi menetap di sekitar lereng Gunung Slamet serta lembah sungai Serayu. Pendatang yang menetap di gunung Cermai selanjutnya mengembangkan peradaban Sunda. Sedangkan pendatang yang menetap di sekitar gunung Slamet kemudian mendirikan kerajaan Galuh Purba. Kerajaan Galuh Purba diyakini sebagai kerajaan pertaman di Pulau Jawa dan keturunannya menjadi penguasa-penguasa di kerajaan Jawa selanjutnya.
Kerajaan Galuh Purba berdiri pada abad ke-1 Masehi di Gunung Slamet dan berkembang pada abad ke-6 Masehi dengan kerajaan-kerajaan kecil diantaranya:
• Kerajaan Galuh Rahyang lokasi di Brebes, ibukota di Medang Pangramesan.
• Kerajaan Galuh Kalangon lokasi di Roban, ibukota di Medang Pangramesan.
• Kerajaan Galuh Lalean lokasi di Cilacap, ibukota di Medang Kamulan.
• Kerajaan Galuh Tanduran lokasi di Pananjung, ibukota di Bagolo.
• Kerajaan Galuh Kumara lokasi di Tegal, ibukota di bagolo.
• Kerajaan Pataka, lokasi di Nanggalacah, ibukota di Pataka.
• Kerajaan Galuh Imbanagara lokasi di Barunay (Pabuaran), ibukota di Imbanagara.
• Kerajaan Galuh Kalingga lokasi di Bojong, ibukota di Karangkamulyan.
Kerajaan Galuh Purba mempunyai wilayah kekuasaan yang lumayan luas, mulai dari Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Bumiayu, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kedu, Kebumen, Kulonprogo, dan Purwodadi.
Berdasarkan prasasti Bogor, karena pamor kerajaan Galuh Purba menurun (kalah pamor dynasti Syailendra di Jawa Tengah yang mulai berkembang) kemudian ibukota kerajaan Galuh Purba pindah ke Kawali (dekat Garut) kemudian disebut Kerajaan Galuh Kawali.
Pada masa Purnawarman menjadi Raja Tarumanegara, kerajaan Galuh Kawali menjadi kerajaan bawahan Tarumanegara. Pada saat Tarumanegara diperintah oleh Raja Candrawarman, kerajaan Galuh Kawali kembali mendapatkan kekuasaannya kembali. Pada masa Tarumanegara diperintah oleh Raja Tarusbawa, Wretikandayun (raja Galuh Kawali) memisahkan diri (merdeka) dari Tarumanegara dan mendapat dukungan dari Kerajaan Kalingga, kemudian menjadi Kerajaan Galuh dengan pusat pemerintahan Banjar Pataruman. Kerajaan Galuh ini yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan Pajajaran di Jawa barat.
Meskipun dalam perkembangannya Kerajaan Galuh Purba berkembang menjadi Kerajaan besar yaitu Kalingga di Jawa Tengah dan Galuh di Jawa Barat, hubungan keturunan Galuh Purba tetap terjalin dengan baik dan terjadi perkawinan antar Kerajaan sehingga muncul Dinasti Sanjaya yang kemudian mempunyai keturunan raja-raja di Jawa.
Berdasarkan kajian bahasa yang dilakukan oleh E. M Uhlenbeck, 1964, dalam bukunya: “A Critical Survey of Studies on the Language of Java and Madura”, The Hague: Martinus Nijhoff, bahasa yang digunakan oleh “keturunan Galuh Purba” masuk ke dalam Rumpun Basa Jawa Bagian Kulon yang meliputi: Sub Dialek Banten Lor, Sub Dialek Cirebon/Idramayu, Sub Dialek Tegalan, Sub Dialek Banyuma, Sub Dialek Bumiayu. Dialek inilah yang biasa disebut dengan Bahasa Jawa Ngapak.
(Sumber: Babad Banyumas diterjemahkan oleh http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa_Banyumasan)
Keterkaitan Banyumas dengan Kesultanan Mataram Islam (Surakarta)
Pada masa Kesultanan Demak (Pra-Mataram Islam), sebagian besar wilayah Banyumas termasuk dalam kekuasaan Pajang. Pada awalnya pusat pemerintahan Banyumas berada di Wirasaba (Purbalingga). Kemudian menjelang berakhirnya kejayaan kerajaan Pajang dan mulai berdirinya kerajaan Mataram (1587), Adipati Wargo Utomo II menyerahkan kekuasaan Kadipaten Wirasaba ke saudara-saudaranya, sementara beliau sendiri memilih membentuk Kadipaten baru dengan nama Kadipaten Banyumas dan beliau menjadi Adipati pertama dengan Adipati Mrapat.
Seiring dengan berkembangnya Kerajaan Mataram, Kadipaten-Kadipaten di wilayah Banyumasan pun tunduk pada kekuasaan Mataram (Yogyakarta/Surakarta). Namun, wilayah Banyumas tidak secara otomatis memasukkan wilayah Banyumas ke dalam “lingkar dalam” kekuasaan Mataram sehingga Kadipaten-Kadipaten di wilayah Banyumas tersebut masih memliki otonomi dan penduduk Mataram (Yogyakarta/Surakarta) menyebut wilayah Banyumas sebagai wilayah Mancanegara Kulon. Wilayahnya meliputi Bagelen (Purworejo) sampai dengan Majenang (Cilacap). Hingga pada tanggal 22 Juni 1830 wilayah Banyumas dijajah Belanda, sekaligus akhir kekuasaan Mataram atas Banyumas. Selanjutnya para Adipati di wilayah Banyumas pun tidak tunduk lagi pada Raja Mataram tetapi dipilih oleh Gubernur Jenderal Belanda. (Sumber: http://maskurmambangr.wordpress.com/asal-mula-wong-banyumas/)
Bahasa Ngapak Representasi Budaya Egaliter
Menurut sejarah, perkembangan bahasa Jawa menjadi berbagai tingkatan (Ngoko, Kromo, dan Kromo Inggil) merupakan produk budaya yang dipengaruhi oleh situasi/kondisi politik pada masa itu (Mataram). Kemungkinan karena posisi Banyumas diantara Sunda dan Mataram menjadikan bahasa Banyumas lebih netral/bebas dari pengaruh Mataram. Menurut Ahmad Tohari (Budayawan Banyumas), secara historis bahasa Jawa Banyumasan merupakan turun lurus (vertikal) dari bahasa Jawa Tengahan/Kawi. Sedangkan bahasa Jawa Anyar logat Yogyakarta dan Surakarta merupakan turun menyamping (horisontal).
Keegaliteran ini dapat dilihat dari karakter orang Banyumas yang Blakasuta (blak-blakan) yaitu apa adanya, tanpa basa-basi. Menurut, Priyadi (2000) budaya masyarakat Banyumas yang tercermin dalam bahasa Jawa Dialek Banyumasan adalah budaya tanggung atau marginal. Artinya dalam mengadopsi budaya Jawa dan Sunda sama-sama dangkal. Oleh karena itu, masyarakat Banyumas tidak lagi mempedulikan status sosial di masyarakat (ningrat/priyayi). Manusia Banyumas lebih suka menggalang sikap kesetaraan yang bersifat universal. Etika di masyarakat Banyumas dibangun atas dasar etika kemanusiaan yang dapat memunculkan kekuatan solidaritas Banyumas yang membedakan antara Jawa-Banyumas dan Jawa lainnya. Keegaliteran manusia Banyumas melahirkan prinsip kerukunan dijunjung tinggi dengan filosofisnya yakni ungkapan tenimbang pager wesi, mendhingan pager tai sehingga melahirkan prinsip aman dan tenteram. Hidup bertetangga berarti saling menjaga rasa aman dalam kehidupan kolektif. Sikap egaliter itu akan menjauhkan setiap individu dari sikap feodalisme yang menempatkan kedudukan, pangkat, dan harta sebagai kiblat hubungan sosial. Oleh karena itu, ungkapan orang desa seperti ngisor galeng, dhuwur galeng dijunjung tinggi. Masyarakat Banyumas mempunyai keyakinan bahwa semua makhluk hidup di mata Tuhan memiliki kedudukan yang sama. Namun, di lain sisi, etika kesetaraan juga telah membentuk masyarakat Banyumas yang menonjolkan sikap-sikap suka bercanda, berbicara tanpa memandang siapa yang diajak bicara, dimana berbicara, kapan berbicara. Priyadi (2000:12) menyebut dengan istilah berbicara secara penjorangan, semblothongan, atau glewehan yang berlebihan sehongga batas etika diabaikan demi suatu keakraban dengan orang lain sesama orang Banyumas. Oleh sebab itu, sering kita jumpai hubungan Banyumas antara orang yang lebih tua dengan yang lebih muda seperti hubungan pertemanan yang jarang dijumpai di daerah Jawa Wetan. (Sumber: http://baturraden.info/item/bahasa-banyumasan.html dan http://www.ki-demang.com/kbj5/index.php…)
Bahasa Ngapak dianggap Lucu atau Bahasa Rendahan
Karakter orang Banyumas yang egaliter merupakan sisi positif sehingga jarang kita temui orang Banyumas yang merendahkan/mengolok-olok bahasa atau dialek orang lain. Mungkin justru sebaliknya karena sikap feodalisme sebagian orang Jawa menganggap dialek bahasa Jawa Ngapak sebagai bahasa yang lucu dan rendahan. Ada pandangan stereotip yang menganggap sebagian besar generasi muda Banyumas merasa inferior (rendah diri) ketika menggunakan bahasa Ngapak. Hal ini bisa dilihat bagaimana bahasa yang digunakan oleh orang Banyumas saat berinteraksi dengan orang Jawa Wetan. Kalau tidak menyesuaikan diri dengan membandhekan ke-ngapakannya dipastikan menggunakan bahasa Indonesia dalam berinteraksi dengan orang yang berbahasa Jawa Wetan. Menurut saya, ini bukanlah suatu hal yang negatif tetapi sebagai bentuk adaptasi orang Banyumas dengan orang dialek bahasa lain. Oleh sebab itu, sering saya temui orang Banyumas di Jakarta menggunakan dialek Betawi, orang Banyumas di Yogyakarta menggunakan dialek Mbandhek, dan ketika bertemu dengan orang sesama Banyumas kembali menggunakan bahasa dialek Ngapaknya. Justru suatu hal yang buruk jika sesama orang Banyumas berdialog dengan tidak menggunakan dialek Ngapaknya. Oleh sebab itu, saya menyarankan kepada generasi muda Banyumas untuk melestarikan dialek Ngapak dengan menggunakan dialek Ngapaknya saat ngobrol dengan sesama orang Banyumas. Selain itu, kepada sebagian orang yang menganggap dialek Ngapak sebagai bahasa Lucu atau Rendahan mari kita saling menghargai kebudayaan orang lain. (Sumber: http://kem.ami.or.id/…/mempertahankan-bhineka-di-depan-tun…/).
https://fbexternal-a.akamaihd.net/safe_image.php?d=AQCc3V5l6RYsyPzS&w=158&h=158&url=http%3A%2F%2Fupload.wikimedia.org%2Fwikipedia%2Fcommons%2Fthumb%2F8%2F85%2FAksarajawa-small2.png%2F100px-Aksarajawa-small2.png&cfs=1&upscale=1

Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak (oleh masyarakat di luar Banyumas)...
id.wikipedia.org